Kamis, 10 Maret 2011

Pak Basri Yang Tak Pernah Sepi Dari Intrik Dan Konflik

Tigapuluh tahun mengabdi jadi guru Umar Bakri nasibmu dikebiri. Lirik sebuah lagu Iwan Fals awal delapanpuluhabn yang menceritakan nasib seorang guru. Tidak salah kiranya apabila lagu tersebut menjadi ilustrasi perjalanan hidup Pak Basri, karena pada beberapa sisi ada kesamaannya.Paling tidak statusnya sama,  sebagai guru. Umar Bakri adalah sosok guru yang idial, orang awas,  sementara Pak Basri seorang tunanetra.

Pak Basri adalah seorang tokoh tunanetra yang cukup berhasil. Pria yang berusia 60 tahun ini telah mampu melewati tahapan-tahapan hidupnya yang berkelok-kelok dan penuh liku-liku.Segala tantangan dihadapinya dengan tegar, sabar dan multi ihktiyar.Hasilnya, luar biasa. Dalam bidang pendidikan, Beliau mempu menyelesaikan jenjang akademis tertinggi,  yaitu jenjang doktoral (strata tiga).Demikian pula dalam jabatan kedinasan.

Jabatan terakhir yang didudukinya ialah Kepala SLBNA Bandung.Beliau memegang jabatan tersebut kurang lebih lima tahun, terhitung sejak Juli 2003 hingga April 2008 . Sebelumnya, Beliau menjadi Kepala SLB Citeureup, Cimahi sekitaar dua tahun lamanya.

Untuk meraih jabatan seperti itu bukan persoalan yang gampang.  Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa jadi kepala sekolah , diantaranya: pangkatnya minimal harus golongan 3d, memiliki kecakapanm, kepercayaan. Selain persyaratan administrative, seseorang yang mengharapkan kursi jabatan kepala sekolah harus siap untuk bersaing.  Antrian orang yang ingin menduduki kursi jabatan itu cukup panjang,masalahnya “enak”. Tidak jarang orang yang menghalalkan segala cara demi sebuah jabatan.

Sebenarnya, Pak Basri membidik jabatan kepala sekolah tersebut sudah lama. Ya, paling tidak sejak akhir dasawarsa delapanpuluhan. Waktu itu masa jabatan Pak Suwarja sebagai Kepala SLBNA Bandung akan berakhir dan Beliau akann memasuki masa pension. Pak Basri sangat berharap Beliaulah yang jadi penggantinya, karena pangkatnya sudah memadai. Tapi Beliau menyadaari , ada Ibu Rusni yang lebih senior. Maka jabatan Kepala SLBNA Bandung jatuh ketangan Ibu Rusni.

Selanjutnya, ketika Ibu Rusni menjelang pensiun,  tentu saja hal ini merupakan kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh Pak Basri. Beliau merasa yakin bahwa yang akan menjadi pengganti Ibu Rusni ialah dirinya, karena dari sisi pangkat Beliaulah yang paling tinggi ditambah lagi sudah magister.Tapi apa yang terjadi, Bu Rusni tidak merestui Pak Basri mengikuti bursa calon kepala slb. Entah apa sebabnya, mungkin kurang kridibel, tidak kompeten, yang jelas mungkin karena tunanetra. Sementara yang lolos menjadi balon KS,ternyata orang lain yang pangkat dan pendidikannya ada di bawah Pak Basri. Memang sering terjadi di beberapa instansi, tunanetra diganjal untuk menduduki sebuah jabatan meskipun persyaratan sangat memadai
.
Sebagai pengganti Ibu Rusni, tampillah Pak Yan Suryana menjadi Kepala SLBNA Pajajaran periode 1992-2000 . Menurut pengakuan Pak Basri, pada masa kekuasaan Pak Yan ini lebih sadis lagi, dimana Pak Basri pernah dicekal untuk tidak mengajar kurang lebih selama dua tahun. Yang menjadi sebab Beliau tidak diberi jam mengajar konon karena adanya pengaduan dari siswa bahwa Beliau tidak becus mengajar. Kemudian hal tersebut dijadikan senjata oleh pihak kepala sekolah untuk menjegal Pak Basri dalam mengikuti seleksi kepala slb.  Isue taersebut menjadi penghalang besar bagi Pak Basri dan menjadi alasan para pengawas dalam menentang keikutsertaan Pak Basri dalam pencalonan kepala sekolah. Pak Basri yang sudah kebal dengan cobaan, maju terus pantang mundur. Akhirnya persoalan Pak Basri diselesaikan di Diknas tingkat Propinsi. Nasib baik mulai berpihak kepada Pak Basri.  Ketika pihak pengawas dengan Pak Basri dipertemukan untuk klaripikasi,  Kepala Bidang Kepegawaian Diknas Jabar berusaha menerima penjelasan dari masing-masing pihak. Pihak pengawas menolak pencalonan Pak Basri dengan alasan konditenya tidak baik, yakni Pak Basri mogok mengajar dalam tempo dua tahun. Alasan yang dikemukakan pengawas tersebut malah menjadi bumerang bagi pengawas sendiri. Kepala Bidang justru balik menyalahkan Pengawas,” Kenapa ada guru tidak mengajar selama dua tahun dibiarkan saja, apa kerja kalian!”

Tiba juga kesempatan bagi Pak Basri  untuk dapat ikut tes kepala sekolah, dan Beliau dinyatakan sebagai salah satu yang lolos. Namun, ada saja gangguannya.Sehari sebelum pelantikan, sebagian guru SLB Ceteureup melakukan unjukrasa menolak kepemimpinan Pak Basri dengan isue yang sama  seperti diatas. Upacara pelantikan 20 orang kepala slb se Jabar berlangsung 28 Juni 2001 kecuali Pak Basri, pelantikannya ditunda.Dipertemukanlah kedua pihak yang tengah berseteru tersebut, yaitu pihak pengunjuk rasa dengan Pak Basri yang dipasilitasi oleh Kepala Diknas Jabar. Lagi-lagi Pak Basri mendapat angin segar. Pak Kadis menyatakan keherannannya, “Kok lucu, katanya penyandang cacat menuntut kesamaan hak. Tapi, ketika ada temannya sudah pantas mendapatkan haknya sebagai kepala, malah tunanetra sendiri yang menolaknya?” Akhirnya Pak Basri dilantik juga sebagai Kepala SLB Citeureup pada tanggal 17 Oktober 2001 dengan cara sembunyi-sembunyi yang mengambil tempat di Green Hotel Lembang. Menjelang akhirnya jabatannya pun, Pak Basri tetap saja tak sunyi dari gelombang yang menggoyang.


Pak Basri yang dilahirkan di Kabanjahe, Sumatera Utara, 6 April 1948 ini, mengabdi di SLBNA Bandung sejak tahun 1975 sebagai honorer dan diangkat sebagai pns Oktober 1977. Waktu itu, Beliau memakai ijazah sarjana muda Jurusan Bahasa Inggris. Kebetulan sarjana penuh yang ditempuhnya sejak tahun 1973 belum selesai. Baru akhir 1977 gelar drs diraihnya. Sarjana muda ditempuhnya selama empat tahun, yaitu dari 1969-1973. Yang istimewa, sma Beliau di SMA PGII ditempuhnya hanya dua tahun. Demikian pula di tingkat sd, Pak Basri hanya butuh waktu kurang dari dua tahun untuk bisa ikut ujian kelas tujuh. Mengapa bisa demikian? Saat itu, ketika Pak Basri maasuk ke Wyataguna tahun 1963 umurnya sudah 15 tahun. Jadi, dengan usia yang lanjut, slb tidak bisa menerimanya. Beliau dimasukkan ke kelas latihan kerja,. Tapi karena ulet, ditempatkan di ruang pelajar, maka beliau bisa ikut belajar dengan siswa slb. Pagi masuk kelas latker, malam masuk kelas persamaan. Seastelah tamat sd, masuklah ke smp pada tahun 1965 hingga 1968. Sebelum masuk ke WG, tujuan awal dari orangtuanya adalah mengobatinya ke Rumah sakit Dr. Yaf, Yogyakarta. Tapi selama dua minggu di sana, pengobatan tadak berhasil dan divonis tak akan bisa melihat lagi. Beliau hingga umur tiga tahun dinyatakan sehat. Penyakit cacar menyerangnya. Cacarnya dapat disembuhkan, Sementara matanya kena, jadi buta. Tahu tidak bakal bisa melihat lagi, akhirnya Beliau tidak mau pulang ke kampung melainian ingin masuk ke Wyataguna. S dua Beliau diselesaikan tahun 92, kemudian s tiga tditempuhnya selam delapan tahun. Keterlambatannya dalam menyelesaikan tingkat doktoralnya karena sulit mendapatkan promoter. Sementara promoter yang siap adalah dari luar IKIP, yaitu Pak Badudu. Sedangkan aturan mensyaratkan harus orang dalam IKIP sendiri. Kebetulan waktu itu masih hangat UUNo. IV Tentang Penyandang Cacat diundangkan. Maka Undang-Undang itu dajadikan senjata oleh Pak Basri. Fotokopinya diserahkan kepada Rektorat, Pak selamet dari Rektorat merasa tersinggung. Beliau berkata, “Apa maksud saudara menyerahkan UU ini?”
“Ya, kalau Bapak melarang saya untuk melanjutkan jenjang doctor saya, akan kena sanksi,” Pak Basri menjawab.

“Bukan karena Undang-Undang saya membantu saudara, tapi karena ingin menolong,” lanjut Pak Selamet.
Selanjutnya, dengan bimbingan Pak SelametPak Basri sampai ke jenjang pendidikan tertinggi. Dalam pidato desertasinya, Beliau mengatakan bahwa ketika 17 Agustus 45, Sukarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.  Ketika reformasi, Gusdur memproklamasikan kemerkekaan demokrasi. Maka 3 Oktober 2001, saya memproklamasikan kemerdekaan pendidikan bagi tunanetera. Cukup membanggakan, sebagai doctor tunanetra pertama di Indonesia. Sedangkan doctor tunanetra yang kedua, yakni Pfak Mansur Sema dari Makasar awal 2008 yang lalu telaah dipanggil ke haribaan Tuhan. Cendikiawan tunanetra yang lainnyamisalnya Pak Didi Tarsidi pada tanggal 21 Nopember 2008 berhasil mempromosikan doktornya.. Kemudian diikuti oleh Saharuddin Daming(Komisioner Komnasham periode 2007-2012 )  telah berhasil pula meraih gelar doktor di Unhas Makasar Pada tanggal 7 Pebruari
Setelah beberapa bulan menjalani masa pensiun, tidak alang-kepalang pertengahan tahun 2008 Pak Basri yang penuh ambisi ini mencoba berkiprah ke dunia politik. Beliau bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN), yang dideklarasikan Amin Rais di awal repormasi yang lalu. Untuk mendulang suara pada Pemilu 2009, PAN mencoba merekrut berbagai kalangan masyarakat.Mulai dari pengusaha, artis , penyandang cacat pun dirangkulnya. Salah satu diantaranya adalah Pak Basri. Pak Basri tercatat caleg urutan nomor 5, Dapil I Jabar, Bandung-Cimahi untuk keanggotaan DPR RI. Tiba saatnya 9 April 2009 Pemilu dilaksanakan. Dengan harap-harap cemas, Pak Basri beserta tim suksesnya berusaha menghimpun informasi dari berbagai pihak. Perhitungan cepat yang dilakukan berbagai lembaga surpey menunjukkan keadaan yang mengecewakan. Perolehan suara PAN anjlok dibanding Pemilu 2004 lalu. Penyumbang suara untuk PAN di Dapil I Jabar sangat kurang.  Suara dari sepuluh caleg PAN di wilayah ini apabila disatukan pun belum cukup untuk mendapatkan satu kursi. Demikian pula dengan Pak Basri, dalam pertarungan kali ini hanya mempu menjadi rander up. Namun Beliau tetap teggar sekalipun gagal. Tiddak sepearti kebanyakan  caleg lain pada stres , bahkan diberitakan ada yang sampai bunuh diri, audzubillahi min dzalik! Selain Pak Basri, ada beberapa tunanetra yang menjadi caleg dalam pesta demokrasi tahun 2009 ini. Mereka ialah Ibu Dewi Trisula, SH dariPDP Lampung; Pak HR Rasikin, Sm.Hk dari PAN Jabar; Adi Made Gunawan, MM dari Jakarta; Tur Haryanto, SH dari Bantul Jogjakarta. Dari semua itu, yang dinyatakan lolos hanya Tur haryanto, Bantul, Jogjakarta.

Bersama keluarga, Beliau tinggal di Jalan Taruna No. 7 kawasan Ujungberung Bandung.Beliau menikah dengan Ibu Hj. Iin Nuraini tahun 1975. Puteranya enam, cucunya tiga.
Dalam bidang organisasi, Beliau pernah menjadi ketua Perpi, sesudahnya pak Haji Aan Zuhana. Demikian pula sebagai ketua ITMI,dijabatnya setelah periode Pak Aan, yaitu masa bakti 2004-20089. Bapak yang berdarah Pariaman, Sumatera Barat inimenyatakan bahwa sekarang ini tidak ada marjinalisasi, kecuali kita sendiri yang memarjinalkan diri .
Tidak ada diskriminasi, kecuali kita sendiri yang mendiskriminasikan diri.
Jangan harap semua orang suka kepada kita, itu nonsen.
Kita harus punya prinsip, kalau kita meyakini sesuatu itu benar, maka jalan terus.

Ditulis Oleh Pak Lanang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar